Tulisan ini adalah kelanjutan dari tulisan yang berjudul “Eks Pekerja Oriental Circus Indonesia Menuntut Haknya yang Puluhan Tahun Mencari Keadilan” karena banyak yang ingin penulis paparkan, maka tulisan penulis bagi dua tulisan, semoga pembaca akhirnya mengetahui kondisi eks pekerja Oriental Circus Indonesia (OCI) dan Taman Safari Indonesia (TSI).
Baca sebelumnya: Eks Pekerja Oriental Circus Indonesia Menuntut Haknya yang Puluhan Tahun Mencari Keadilan
Ada berita dari beberapa orang eks pekerja OCI dan TSI yang mendatangi Cak Sholeh yang memberikan konsultasi hukum bersama karyawan di PT Karya Bintang Mandiri Sidoarjo Jawa Timur dengan gerakan “No Viral No Justice.” Kemudian mereka juga mendatangi Pak Rudi S Kamri dari Anak Bangsa TV, datang pula untuk podcast dengan Pak Eko Kuntadi dan terakhir yang penulis ketahui datang ke Surabaya menemui pakar hukum dan komunikasi Unair Surabaya Prof Henri Subiakto yang juga diwawancarai lewat podcast beliau.
Dari hasil podcast, penulis simpulkan menjadi tulisan, semoga enak dibaca. Ada sekitar 60 orang yang disiksa dan dieksploitasi sejak usia balita untuk menjadi pemain OCI oleh Jansen Manansang, Frans Manansang dan Tonny Sumampau pemilik TSI. Untuk saat ini ada sekitar 17 orang eks pekerja OCI dan TSI yang mencari keadilan dan mencari keberadaan keluarga terutama orang tua mereka. Kalau masih hidup di mana orang tuanya, kalau sudah mati di mana kuburnya? Mereka ingin kembali ke masyarakat dan hidup normal bersama keluarga besarnya.
Mereka selama ini sengaja dipisahkan dari keluarganya oleh Jansen Manansang, Frans dan Tonny. Mereka tiga saudara berasal dari China Daratan yang pada tahun 1950 dibawa ayahnya hijrah ke Indonesia. Ayahnya bernama Tjoa Kim Han (Tjai Ling Sian) lahir dari keluarga miskin di desa pinggiran Kota Shanghai China pada tahun 1913. Ketika sudah di Indonesia namanya diubah menjadi Hadi Manangsang, tentunya ini akan mempermalukan suku Manado. Putra sulungnya malah berkedok menjadi Pendeta dan Gembala Gereja yang merusak citra umat kristiani.
Singkat cerita sekitar tahun 1963-1964 setelah ngamen dan jual obat, Hadi Manansang membentuk bintang akrobat dan gadis plastik. Para pemain akrobat dan gadis plastik ini adalah anak dari keluarga miskin yang dibeli melalui calo dengan harga Rp 300 ribu hingga Rp 500.000,- kala itu. Para balita ini setiap hari dilatih dari pagi hingga larut malam, mereka ikut dan tinggal di tenda cirkus, ikut main sirkus keliling Indonesia.
Tiga tahun kemudian, hadirlah Oriental Show yang berganti nama dengan Orientasi Circus Indonesia (OCI) pada tahun 1972. Saat itu banyak satwa yang mulai main bersama OCI yang dipandu oleh Jansen, Frans dan Tonny. Saat itulah Hadi Manansang dan tiga putranya membuat kebun binatang. Maka terbentuklah Taman Safari Indonesia saat Hadi Manansang mengajak ketiga putranya untuk ngamen di alun-alun, lapangan, kelenteng, sekolah hingga paguyuban Tionghoa dengan Oriental Circusnya. Sambil main sirkus mereka menjual obat koyok ramuan mereka sendiri.
Jansen bermain sulap sedangkan istrinya tampil atraksi dengan anjing, Frans bermain Juggling istrinya bermain dengan gajah sedangkan si bungsu Tonny bermain dengan harimau. Dengan bermain sirkus dan kecintaan kepada hewan inilah Taman Safari Indonesia tercipta.
Suksesnya OCI dan TSI ada cerita pilu para pekerjanya. Cerita ini ketika kemegahan OCI yang berakhir pada tanggal 12 Januari 2020. Ada puluhan anak miskin dijadikan yatim piatu dan dieksploitasi menjadi pemain akrobat dan gadis plastik (gadis yang bisa meliak-liuk badannya dibentuk lentur seperti plastik).
Banyak dari mereka tidak tahu asal usulnya, sengaja dipisahkan dengan orang tuanya sejak kecil. Disiksa kalau tidak nurut, banyak yang kabur karena tidak tahan dengan siksaan. Mereka yang tertangkap kembali dihajar bagaikan binatang di depan teman lainnya agar yang lain takut dan tidak berani untuk kabur.
Saat ini ada sekitar 20 orang eks pekerja OCI dan TSI yang hidup menderita di berbagai kota. Antara lain di Bogor, Bekasi, Magelang, Malang, Mojokerto, Magetan dan Kota lain.
Ibu Butet contohnya hidup di bantaran sungai Kota Malang. Ibu Butet ini tidak tahu asal usul keluarganya. Ketika dia merajut cinta dengan karyawan OCI dan ketahuan hamil. Ibu Butet dipisahkan dari orang yang dicintainya. Dia dipasung salah satu kakinya, kalau mau latihan dan main sirkus baru dilepas. Untuk kencing dan buang air besar dibantu temannya dalam kondisi hamil dan salah kakinya dipasung. Ketika melahirkan bayinya langsung dipisahkan dengan ibunya.
Banyak kasus kekerasan yang dialami oleh eks pekerja OCI dan TSI. Ada yang meninggal karena kecelakaan, jatuh dari ketinggian saat atraksi, ada lumpuh seumur hidup. Karena mereka para pekerja OCI dan TSI disiksa, dipukul, dirantai hingga disetrum badannya hingga sampai kemaluannya.
Mereka adalah korban pelanggaran HAM berat yang dibiarkan tanpa keadilan. Dan sekarang mereka para eks pekerja OCI dan TSI meminta keadilan dari pemerintah. Mereka meminta haknya selama bekerja pada Jansen, Frans dan Tonny.
Mereka telah kehilangan masa kanak-kanak, masa remaja dan masa tuanya bahkan tidak memiliki masa depan sama sekali. Hidupnya hancur karena perlakuan keji pemilik OCI dan TSI. Mereka baru berani bicara di era media sosial setelah tersiksa dan trauma berkepanjangan selama puluhan tahun karena kejamnya hidup di sirkus.
Sekarang mereka eks pekerja OCI dan TSI menuntut keadilan dan minta diviralkan. Anak-anak kecil yang dulu dipisahkan dengan orang tuanya sekarang sudah berusia 50 tahunan. Mereka trauma dengan kehidupan sehari-hari sebagai pemain sirkus. Sekarang mereka hidup dirumah kontrakan dengan petak yang sangat sempit, hidup berpindah dari satu kota ke kota lainnya.
Bagi para pembaca yang bersimpati dan berempati dengan nasib para eks pekerja OCI dan TSI sekiranya bisa menghubungi mereka dengan komen di link tulisan ini. Atau bisa komen di podcast dari Cak Sholeh, Pak Rudi S Kamri, Pak Eko Kuntadi dan Prof Henri Subiakto.
Mereka memerlukan uluran tangan dari saudara yang mau menolong dan bagi pemerintah sekiranya bisa mencarikan solusi terbaik untuk menolong para eks pekerja OCI dan TSI. Atas kebaikan dan pertolongan dari saudara semua, penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga. Semoga Allah SWT membalasnya kebaikan dari saudara semuanya dengan pahala dan rejeki yang berlimpah ruah. Aamiin aamiin aamiin YRA.
Baca juga:
Eks Pekerja Oriental Circus Indonesia Menuntut Haknya yang Puluhan Tahun Mencari Keadilan
Nurul Azizah penulis buku Muslimat NU Militan Untuk NKRI.
