Pertunjukan sirkus adalah pertunjukan yang paling menyenangkan, bisa dinikmati di layar televisi atau melihat secara langsung. Sirkus adalah pertunjukan hiburan yang menampilkan berbagai keterampilan dan keberanian manusia serta hewan yang sudah terlatih. Salah satu pertunjukan khas sirkus adalah trapeeze terbang, yaitu pertunjukan yang dilakukan di atas jaring, dan di bawahnya ada orang yang siap menangkap pemain trapeeze tersebut. Terbang di atas ketinggian hingga 12 meter wow keren. Para pemain sirkus atau Oriental Circus Indonesia (OCI) memiliki banyak talenta diantaranya akrobat, penari, pemain sulap, pemain hooper, pejalan tali, ventriloquist, pengendara sepeda roda satu, seniman manipulasi objek, badut, musisi dan lain sebagainya. Pertunjukan sirkus yang dimainkan oleh pemain Oriental Circus Indonesia (OCI) dan Taman Safari Indonesia (TSI) sangatlah melegenda di zamannya.
OCI mulai terkenal pada tahun 1967 dan mencapai masa keemasannya pada tahun 1990-an. OCI merupakan kelompok sirkus tertua dan satu-satunya yang masih bertahan di Indonesia hingga saat ini. OCI didirikan oleh Hadi Manansang, salah satu keluarga pendiri Taman Safari Indonesia (TSI). OCI keliling Indonesia dengan mendirikan tenda-tenda untuk mengadakan pertunjukan yang menghibur masyarakat. Bisa disaksikan lewat telivisi atau langsung datang ke tempat pertunjukan.
Fakta lain yang bisa dihimpun oleh penulis dari berbagai sumber, OCI pernah tampil di luar negeri dalam beberapa festival sirkus. Pernah menggelar pertunjukan besar di Gelora Bung Karno, Jakarta. OCI tampil di hampir seluruh kota-kota besar di Indonesia antara lain Medan, Sumatera Utara, Surabaya Jawa Timur, Solo, Semarang Jawa Tengah, Pangkal Pinang di Kepulauan Bangka Belitung dan Kota Balikpapan Kalimantan Timur serta kota-kota besar lainnya. Hingga pada awal tahun 2020, OCI menyatakan tidak lagi berkeliling mempertunjukkan atraksi sirkus. Penulis dan semua penggemar sirkus sudah mulai melupakan OCI ya karena mereka para pemain sudah tidak eksis lagi.
Apalagi masuk tahun 2020 Indonesia sudah mengumumkan adanya virus covid 19, dimana aktivitas masyarakat Indonesia dilakukan di dalam rumah. Semua pekerjaan dilaksanakan secara online.
Saat semua orang sudah melupakan Oriental Circus Indonesia dan Taman Safari Indonesia, tiba-tiba pada akhir bulan Ramadhan 1446 H atau akhir bulan Maret 2025 penulis dikejutkan oleh pernyataan eks pekerja Oriental Circus Indonesia sebanyak 60 orang ingin menuntut hak-haknya selama bekerja di OCI dan TSI. Ada apa gerangan mereka sampai mendatangi para youtuber dan pakar hukum dan komunikasi yang mereka ketahui.
Mereka eks pekerja datang ke Cak Sholeh, Pak Rudi Kamri, Mas Eko Kuntadi dan Prof Henri Subiakto mengadukan nasibnya dari kecil hingga dewasa selama menjadi pekerja Oriental Circus Indonesia dan Taman Safari Indonesia. Mereka di dzolimi oleh pemilik OCI dan TSI. Diperlakukan tidak manusiawi, mereka diperlakukan seperti hewan peliharaannya, disiksa dan disetrum anggota tubuhnya. Penderitaan mereka tidak tercium oleh penegak hukum di Indonesia. Puluhan tahun mereka merasakan penderitaan yang amat sangat menderita. Diperlakukan tidak manusiawi oleh para pemilik OCI dan TSI. Korban pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia) sejak kecil bahkan ada yang masih bayi hingga dewasa diperlakukan seperti binatang. Mereka selama bertahun-tahun lamanya tidak memperoleh keadilan hingga sekarang.
Mereka pekerja OCI dan TSI sangatlah takut berbicara di media. Untuk memperjuangkan hak-haknya sebagai pekerja OCI dan TSI mereka mulai berani bicara di media. Mereka tidak akan pernah melupakan penderitaan dan penyiksaan terhadap dirinya yang dilakukan oleh pemilik OCI dan TSI di masa lalu. Mereka kehilangan masa anak-anak, masa remaja dan masa depannya hancur karena disiksa dan diperlakukan tidak adil oleh pemilik OCI dan TSI.
Bagaimana penderitaan mereka para eks pekerja OCI dan TSI dan bagaimana kejahatan yang yang dilakukan oleh Jansen Manansang bersaudara (Jansen, Frans dan Tony).
Baca selanjutnya:
Kisah Pilu Eks Pekerja Sirkus dan Taman Safari Indonesia, Dihajar Bagaikan Binatang
Nurul Azizah penulis buku Muslimat NU Militan Untuk NKRI.
