Penulis: Erri Subakti
Yaqut Cholil Qoumas kemarin dikenalkan oleh Presiden Joko Widodo akan menjadi Menteri Agama menggantikan Fahrul Razi. Publik cukup ramai membicarakan karena selama ini Gus Yaqut merupakan Ketua Umum GP Anshor, organisasi sayap NU dalam kepemudaan, dimana Banser juga berada di bawah ‘komando’nya.
Gus Yaqut mengenyam pendidikan tinggi di jurusan Sosiologi FISIP UI pada tahun 1993. Berpenampilan gondrong hingga nyaris sepinggang rambutnya, sangat aktif dalam organisasi kemahasiswaan lintas kampus kala itu.
Sebagai anak kyai pendiri PKB sekaligus cucu dari pejuang kemerdekaan RI, karir Gus Yaqut usai menempuh perkuliahan di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, tancap gas terjun ke dunia politik. Sejak tahun 2001 hingga 2014 Gus Yaqut dipercaya menjadi Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PKB Kabupaten Rembang. Pada Pilkada 2005 terpilih menjadi Wakil Bupati Rembang hingga tahun 2010. Tahun 2011 Gus Yaqut menjadi Ketua PP GP Ansor hingga kini. Kemudian, pada tahun 2012, Gus Yaqut menjadi Wakil Ketua DPW PKB Jawa Tengah (2012-2017). Pada Pileg 2019 ia lolos menjadi Anggota DPR RI periode 2019-2024.
Kakek dari Gus Yaqut, KH. Bisri Mustofa (Mbah Bisri) merupakan pejuang kemerdekaan RI yang memimpin Laskar Hisbullah mengangkat senjata. Mbah Bisri juga merupakan tokoh yang diburu oleh PKI ketika pemberontakan PKI di Madiun 1948, yang memaksanya untuk mengungsikan keluarganya ke sebuah tempat di Kediri selama 2 tahun.
“Kesaktian” kakek Gus Yaqut ini pernah diceritakan oleh Yahya Cholil Tsaquf/Gus Yahya (kakak dari Gus Yaqut) kepada media.
Jadi sewaktu KH. Cholil Bisri (ayah Gus Yaqut dan Gus Yahya) masih muda, bersama adiknya KH Mustofa Bisri/Gus Mus sempat belajar ilmu kanuragan.
Dua santri kakak-beradik ini, Mbah Cholil dan Gus Mus, berlatih tirakat dan mempelajari berbagai ilmu kebal senjata tajam.
Penampilan kedua santri muda ini berubah. Rambut mereka gondrong sampai ke punggung, artinya tak mempan dicukur. Baju mereka berwarna hitam khas pendekar (baju kutung dan celana komprang sebatas dengkul). Memakai ikat kepala batik dan beralas kaki terompah kayu (sandal teklek).
Ketika mereka pulang ke Rembang banyak orang yang melihat di perjalanan pada takut.
Tapi begitu sampai di rumah, ayahanda mereka (kakek Gus Yaqut) marah besar. Kedua pendekar muda itu mengkeret. Segala pakaian dan atribut kependekaran mereka dilucuti dan dibakar. Tapi rambut mereka tak mempan dicukur oleh beberapa orang.
Mbah Bisri akhirnya turun tangan sendiri. Kres kres…., ilmu kebal senjata tajam kedua “santri pendekar” itu tak ada apa-apanya bagi Mbah Bisri. Rambut gondrong Mbah Cholil dan Gus Mus pun habis.
Ayah Gus Yaqut (Mbah Cholil) dan adiknya, Gus Mus diminta berhenti mengamalkan ilmu-ilmu kanuragan. Mbah Cholil dan Gus Mus akhirnya pindah mondok ke Pesantren Krapyak, Yogyakarta.
Bukan kebetulan Gus Yaqut juga saat menjadi mahasiswa Sosiologi FISIP UI berpenampilan gondrong, seperti ayahnya dulu saat masih muda. Tapi apakah memang memiliki ilmu kanuragan? Entahlah.
Yang pasti suatu kali Gus Yaqut pernah diancam oleh pentolan salah satu ormas Islam radikal. Sebuah pistol diperlihatkan salah seorang “jagoan” ormas radikal tersebut di depan Gus Yaqut.
Tanpa gentar sedikit pun, Gus Yaqut malah mengatakan dengan tegas, “Kalau sampai terjadi apa-apa sama saya, saya pastikan organisasimu akan habis!”
👍💪💪💪
Allahu Akbar..
Kembalilah Indonesia ku sebagai negara yg menjunjung tinggi toleransi 👍🙏