Apa yang Hak adalah Hak, yang Bukan Hak adalah Bukan Hak

Penulis: Roger “Joy” P. Silalahi

Seberapa Indonesia Kamu…?

Nearly all men can stand adversity, but if you want to test a man’s character, give him power.
-Abraham Lincoln-

Kriminologi UI itu penuh dengan manusia-manusia ajaib dengan perilaku yang kadang unpredictable. Gudang dari manusia berprinsip kuat yang bisa saja bertentangan satu dengan yang lainnya tapi tidak sampai menimbulkan percikan api karena keterikatan pada ikatan kekeluargaan yang sangat kuat.

-Iklan-

Saya bisa saja tidak mengenal secara pribadi satu atau dua senior atau junior saya, tapi begitu ada kontak maka kontak itu akan berlangsung dalam balutan kekeluargaan yang kuat.

Demikianlah pola hubungan interpersonal dalam ikatan keluarga Kriminologi UI. Bertemu atau berbincang selalu penuh canda tawa layaknya sebuah keluarga besar. Keajaiban perilaku orang per orang biasanya diceritakan tanpa batas, lintas generasi, sebagai bahan bercanda, pelajaran, bahkan renungan.

Saya pernah mendengar sekilas cerita dari Bang Tunjung angkatan 86 mengenai rekan seangkatannya, Bang Hengki. Cerita singkat yang menancap dalam karena ‘keanehan’ dari Bang Hengki. Yang diceritakan ini adalah hal yang seharusnya tidak aneh, tapi karena pergeseran nilai menjadi suatu hal yang disebut ‘aneh’.

Nilai yang saya maksud di sini adalah nilai yang dijadikan prinsip dalam hidup Bang Hengki. Berdasar pada prinsip hidup yang seharusnya dianut oleh semua orang, terlepas apa agamanya, apa pendidikannya, atau apa posisinya. Untuk seri 30 hari ini saya sengaja mencari kontak Bang Hengki agar bisa wawancara untuk bisa menceritakan ‘keanehan’-nya ini, dan berhasil dengan bantuan para senior yang kebanyakan memang baik hati, baik budi, walau sudah kurang baik body.

Jadi begini, Bang Hengki ini untuk gampangnya disebut orang sebagai “Cina Bangka”, walau kebanyakan orang akan menyangka Bang Hengki sebagai orang Sunda. Lahir di Bangka tanggal 5 Maret 1967 sebagai anak ke-3 di keluarganya. Kegemaran Bang Hengki adalah Matematika  dan Fisika, jadi terbayanglah ya, secara umum pastilah digolongkan sebagai orang pintar. Bang Hengki masuk di Kriminologi tahun 1986, entah kenapa juga memilih masuk Kriminologi sementara kegemarannya Matematika dan Fisika, untuk hal ini saya sepakat, aneh.

Masuk semester 5, Bang Hengki sudah mulai buat outline skripsi, karena satu semester selalu ambil mata kuliah sampai 30 SKS atau lebih, dan selalu dipersilahkan oleh Pembimbing Akademik dan Ketua Jurusan karena selalu membuktikan hasil yang cemerlang.

Jadi rupanya target Bang Hengki adalah ingin memecahkan record, lulus dalam 3 tahun, 6 semester. Tapi hal ini tidak tercapai, hal biasa yang menghambat adalah ketidaksesuaian pendapat antara mahasiswa dan pembimbing skripsinya, biarlah, sudah jalannya demikian, toh akhirnya lulus juga. Sekarang topik inti, “keanehan” yang saya maksud, hal yang paling ingin saya ceritakan terkait Bang Hengki ini.

Karena kesal dengan pertidaksesuaian dengan pembimbing skripsi, Bang Hengki memilih cuti kuliah dan kerja. Melamar kerja ke tempat yang tidak sesuai lagi dengan kegemarannya di Matematika dan Fisika, ataupun dengan jurusan Kriminologi yang diambilnya. Bang Hengki yang memegang status sebagai “Kung Fu Boy”, “Karateka”, atlit “Boxer”, dan atlit “Perbakin” ini melamar kerja ke bank. Aneh lagi kan. Tapi sekali lagi Bang Hengki membuktikan kehebatannya. Karier melesat tinggi, dan duduk sebagai Boss di bagian Treasury, bagian yang di bank bisa dibilang paling “basah”.

Sebagai Kepala Treasury, segala bisnis  dan pinjaman dari pengusaha dan bank lain, baik yang sifatnya hanya kredit, kerja sama, atau pasar uang, atau hal lainnya, semua harus ada tanda tangan Bang Hengki, baru kerjaan dan uang bisa release. Tidak heran, dengan deal yang pada awal tahun 90-an bernilai sampai Rp500 milyar ke atas, Bang Hengki selalu dapat “ucapan terima kasih” yang nilainya tidak kecil, dalam 1 tahun itu “terima kasih” biasanya sekitar Rp 8 milyar-lah. Maka wajar kalau Bang Hengki jadi orang yang kaya-raya, tajir melintir. Tapi tidak…!!!

Untuk membeli rumah di Kemang Pratama setelah menikah yang harganya waktu itu Rp100 juta pun Bang Hengki tidak mampu, yang dibeli terpaksa yang di Vila Nusa Dua seharga Rp50 jutaan, dan setelah sekian tahun barulah bisa pindah ke perumahan Kemang Pratama yang diidamkannya. Kenapa…? Karena setiap tahun, komisi yang didapatkannya dari para pengusaha dan bankir yang jumlahnya dahsyat itu akan masuk sebagai “Pemasukan Lain-lain” di pembukuan bank tempat Bang Hengki bekerja. Pun sudah dipersilahkan oleh pemilik bank untuk mengambil komisi itu untuk dirinya, Bang Hengki hanya menjawab; “Apa yang hak adalah hak, dan yang bukan hak adalah bukan hak…”. Simple padat, kuat, dan benar, itu pesan dan didikan orang tuanya. Nyatanya, sampai sekarang Bang Hengki masih hidup serba berkecukupan, walau tidak pernah menerima “ucapan terima kasih” dari siapapun.

Membanggakan punya senior yang menunjukkan karakter, integritas yang tinggi, kejujuran yang mengakar, tanpa tergoda untuk mengambil apa yang bukan hak-nya. Hidup bersih, jujur, bahkan pada diri sendiri, menempatkan Bang Hengki sebagai salah satu contoh, bagaimana orang Indonesia seharusnya menjalani kehidupannya.

Bang Hengki, orang Indonesia… Kamu…?

-Roger Paulus Silalahi-

 

Artikel ini merupakan seri tulisan “Seberapa Indonesia Kamu?”

Baca artikel lainnya:

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here