SintesaNews.com – Ketua Umum PNIB (Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu) menyatakan bahwa Jombang Jatim dan Seluruh Negeri Butuh Ulama-ulama yang Pancasilais, Tak Butuh UAS dan Da’i Provokator.
Hal ini disampaikan Gus Wal kepada SintesaNews.com saat menanggapi pertanyaan redaksi kepada Ketum PNIB mengenai adanya agenda-agenda ceramah UAS di beberapa tempat di Jawa Timur.
“Kami Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB) mengajak warga masyarakat untuk menolak dai provokator seperti UAS yang jelas-jelas isi ceramahnya provokatif memecah belah masyarakat, bahkan juga memecah-belah umat Islam,” ucap Gus Wal.
“UAS, juga Bachtiar Nasir mempropagandakan Khilafah, agenda mereka yang ingin mendirikan Khilafah di Indonesia,” ujar Gus Wal.
Baca: PNIB: Jaga Surabaya, Jombang dan Indonesia dari UAS dan Da’i Provokator Khilafah
“Jangan pernah biarkan eksistensi seorang UAS yang nyata-nyata sejak dulu sebagai corong propaganda Khilafah,” ucap Gus Wal.
Karena itu Gus Wal juga menegaskan, PNIB menolak keras ceramah UAS 10 Juli 2022 sebagai khatib Idul-adha di Jombang.
“Kami PNIB menolak kedatangan UAS di Jombang untuk berceramah Idul Adha. Jika UAS masih nekat datang, PNIB akan bersiap mengusir UAS dari lokasi acara tersebut,” tegas Gus Wal.
“Bahkan jangan undang para da’i provokator untuk berceramah di mana pun dan kapan pun. Jika terlanjur diundang, tolak mereka. Karena mereka hanya pengasong khilafah radikalisme terorisme,” kata Gus Wal.
Gus Wal juga mengemukakan bahwa aktivitas kelompok pengasong propaganda khilafah harus betul-betul dilawan dengan sekuat tenaga masyarakat yang memahami Pancasila seutuhnya.
“Karena itu kami PNIB menentukan sikap menolak apapun bentuk upaya memecah-belah dengan menolak keras apapun bentuk usaha-usaha khilafah yang dilakukan oleh siapa pun. Bersama kita bangkitkan gemakan kembali Nasionalisme dan Kebangsaan yang merupakan masa depan bangsa,” lanjutnya.
Gus Wal berpendapat, UAS, Bachtiar Nasir, Sugik Nur, Novel Bamukmin, dan lain sebagainya, merupakan para da’i provokator.
Lewat propaganda dan provokasi-provokasi merekalah terbentuk apa yang disebut sebagai politik identitas. Karena propaganda mereka dibungkus dengan embel-embel agama yang memprovokasi masyarakat untuk membenci kelompok yang berseberangan dengan mereka menggunakan isu SARA.
Hal itu seseungguhnya yang menjadi ancaman terbesar bangsa Indonesia saat ini, tutur Gus Wal.
“Politik Identitas, da’i provokator, khilafah radikalisme terorisme dan bahaya laten Fpi, htu, nii, khilafatul muslimin, adalah ancaman terbesar bangsa Indonesia,” ujar Gus Wal.
Gus Wal mengajak masyarakat untuk tidak diam dengan ancaman yang nyata ini.
“Tolak dan lawan mereka dengan menggemakan dan membumikan Pancasila dan gelorakan merah putih ke semua lapisan anak bangsa di seluruh penjuru negeri,” imbuhnya.
“Seharusnya di seluruh penjuru negeri pun harus demikian, demi terciptanya keamanan kedamaian nan ketentraman umat,” ujarnya.
“Terlebih jika UAS dan para dai provokator sepertinya menyebarkan ideologi ‘haram’ terlarang HTI khilafahnya, jika itu terjadi kami Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB) bersama-sama warga masyarakat siap melawan dan perang total terhadap mereka,” tegasnya.
“Karena itu kami PNIB menentukan sikap menolak apapun bentuk upaya memecah-belah dengan menolak keras apapun bentuk usaha-usaha khilafah yang dilakukan oleh siapa pun. Bersama kita bangkitkan gemakan kembali Nasionalisme dan Kebangsaan yang merupakan masa depan bangsa,” lanjutnya.
“Jaga Kampung Desa dari para Da’i Provokator, paham ideologi transnasional Khilafah Radikalisme Terorisme dan bahaya laten Khilafatul muslimin, FPI HTI NII,” pesannya.
“Jaga Bangsa, Bela Negara, Lestarikan Pancasila, Merawat Tradisi Budaya Nusantara,” pungkasnya.
Baca juga: